Latest Entries »

…cantik…

ada hati yang termanis dan penuh cinta…

tentu saja kan kubalas seisi jiwa…

tiada lagi, tiada lagi yang ganggu kita…

ini kesungguhan…sungguh aku sayang kamu…..

Advertisements

Pada suatu siang, nampaklah seorang ayah bersama dengan anak perempuannya yang masih berseragam sekolah dasar. Sepertinya si ayah pulang menjemput anaknya pulang sekolah.
Setelah diketahui dari bordiran nama di bajunya, gadis kecil itu bernama Vanessa. Tidak seperti biasanya, pada hari tersebut ia diajak ayahnya pulang sambil berjalan-jalan menembus taman kota. Di tengah perjalanan, terdapat sebuah jembatan kecil di atas sebuah sungai yang harus mereka lewati. Dan ternyata, jembatan tersebut nampak sudah berumur dan mulai usang, si Ayah sedikit khawatir. Ia berkata pada Vanessa, “Vanes, ayo genggam tangan Ayah. Agar kamu tidak terperosok dan jatuh ke sungai.”
“Tidak,” tolak Vanessa. “Seharusnya, Ayah yang menggenggam tanganku”.
“Lha, apa bedanya?” tanya ayahnya bingung.
“Tentu berbeda, Yah. Kalau tangan Ayah yang kugenggam dan terjadi sesuatu, bisa saja genggamanku terlepas. Tapi, kalau Ayah yang menggenggam tanganku, apapun yang terjadi, aku yakin Ayah tidak akan melepaskan genggaman di tanganku,” jawab Vanessa.
Ayah Vanessa kaget sekaligus tercengan mendengar jawaban dari anaknya. Setelah memikirkannya beberapa saat, ia merasa apa yang dikatakan oleh anaknya sangatlah benar. Jadi, ia pun menggenggam tangan anaknya dengan erat disertai rasa sayang untuk menyeberangi jembatan itu.

Kepercayaan tidak sekedar mengikatkan diri satu sama lain. Namun, kepercayaan harus bisa saling mempersatukan. Jadi, genggamlah tangan orang yang kita sayangi, daripada mengharapkan orang itu menggenggam tangan kita.

Seiring detik jam merayu berbisik…
Biaskan bisikan hati dalam satu lorong nurani, berlalu menyusuri sepi sunyikan hari, terpaku dalam sebuah ironi..tiada henti..
Tak kuasa kutanggalkan seribu pedangmu, menancap erat lemahkan bayangku, tertahan dalam sebuah dilema penuh tanda tanya..siapa gerangan dirinya..
Terkantuk dalam jagaku, penantian dalam tawamu..nyata tercermin dalam secercah pengharapan akan dirimu…

my letter

hello, my lovely…how are you?
i wish you always be happy there..
but surely,i always missing you here..come on, come back here, stay close with me again..
i wanna see you again, laughing loudly together, talking some story, and doing everything with me..
just a few days ago, you went for holiday with your family there..but i know that you’re never ‘log out’ from my mind, of course from my heart too..hehe
okay, that’s for tonight..i’m happy if you come back early…

with love, Ovic to Fanny….
luvFAMpage1

Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan,

Jika memiliki semuanya, apalagi yang kita cari.images

Bersyukurlah saat kita tidak mengetahui sesuatu,

karena itu memberi kesempatan bagi kita untuk belajar.

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kita hadapi,

karena selama itulah kita tumbuh menjadi lebih dewasa.

Bersyukurlah atas keterbatasan yang kita miliki,

karena itu memberi kesempatanbagi kita untuk memperbaiki diri.

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru,

karena semua itu akan membangun kekuatan dan karakter kita.

Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat,

karena itu memberi pelajaran yang berharga bagi kita.

Bersyukurlah ketika kita lelah dan tak berdaya,

karena kita telah membuat suatu perbedaan.

Mudahlah bersyukur atas hal-hal yang baik..

Kehidupan yang bermakna adalah bagi mereka yang senantiasa bersyukur atas berbagai hal yang dihadapi..

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 1,900 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 3 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Seorang Pandu hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil pickup-nya di depan mobil Mercedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.

Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?

Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata ” saya kemari untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil bukankah disana lebih hangat? oh ya nama saya Pandu.

Pandu lalu mengecek bagian mesin mobil, selanjutnya masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak.

Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari sebuah kota di pulau seberang sana dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.

Wanita itu berkata berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya. Pandu hanya tersenyum.

Pandu tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita itu ” Bila ia benar-benar ingin membalas jasanya, maka apabila suatu saat nanti apabila ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut “…dan ingatlah pada saya”.

Pandu menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.

Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Pandu

Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan selembar cek senilai Rp.10.000.000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu:
“Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan:

“Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang”.

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa yang di tulis oleh wanita itu.

Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?

Ia tau bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut sambil berbisik: “semuanya akan baik-baik saja, Love You Pandu”

“Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar”,

don’t you ever stop to do good things in your life..

*terinspirasi dari sebuah fenomena kehidupan, yang sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari2…

Mengapa kita harus bersusah-susah sementara orang lain bisa senang

Mengapa kita harus bekerja lembur semalaman sementara orang lain sudah tertidur pulas

Mengapa kita harus berhujan-hujan naik angkutan umum sementara orang lain merasa nyaman di kendaraan pribadinya

Mengapa kita terkadang mengeluh saat dihadapkan dengan makanan yang sederhana serta murah harganya

Tapi pernahkah kita bertanya:

Adakah orang lain yang lebih susah daripada kita, mungkin tidak pernah tahu apa yang namanya senang

Adakah orang lain yang tidak punya pekerjaan sampai sekali sampai rela bekerja apapun

Adakah orang yang bahkan untuk naik angkutan umum saja tidak mampu bayar

Adakah orang lain yang pada sehari-harinya susah untuk mendapatkan nasi walaupun sesuap
Kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?
Kenapa saat kita susah kita menyalahkan Tuhan, tetapi kepada saat senang kita lupa pada Tuhan?
Kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?

Jawabannya tidak ada di buku mana pun, tidak ada di siapa pun, tapi di hati kita sendiri… 

bersyukurlah selagi kesempatan untuk bersyukur masih tersedia, sebelum segalanya terlambat dan hilang tak bersisa

Suatu hari sang guru bertanya pada murid-murid nya; “Mengapa ketika seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara keras atau berteriak?
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
“Karena saat itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak”
“Tapi..” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawabannya yang memuaskan.

“Ketika dua orang sedang berasa dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begiu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan…
“Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?
Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkan dengan begitu jelas.Mengapa demikian?”

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak
berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hari mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangna mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan…
“Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan
jarak.

Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.

*Cerita ini hanya rekaan semata, diangkat dari sebuah momen yang mungkin terjadi di sekitar kita, tak lain hanya sebuah memoar kata sarat makna..jika ada kesamaan cerita, semoga bernilai bagi anda yang membacanya…

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. “Mengapa?”,
Dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan” Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”. Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,

“Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”
Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…. “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”.
“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”
“Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.
“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.”
“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.”
“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”.
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.